Kamis, 27 Maret 2014

NOVEL : Urat Nadi pengikat



Urat  Nadi pengikat [BAG. 1]

*      BADAI PERGOLAKAN BATIN

Dikala berkumandangnya lantunan-lantunan ayat al-Qur’an mendesir keras namun sangat lembut terdengar ditelinga ini dan pada saat ini pula waktuq telah usai untuk menikmati tidur yang membuat mimpi-mimpi indah di malam hari. 

Yah, seperti biasanya untuk menjadi keseharianq mengisi waktu kosong setelah kelulusan di bangku SMA aku membantu ibu dan keluarga mencukupi kebutuhan sehari- hari demi terpenuhinya kantong-kantong lambung yang setiap harinya harus diisi dengan butiran-butiran nasi beserta lauk-pauk!! Yah,,, hidup ini memanklah tidak mudah untuk dijalani.p
Pagi-pagi aku sudah harus melakoni segudang pekerjaan mulai dari cuci piring, bersih-bersih rumah, namun sebelum itu aku harus membungkus nasi-nasi kuning yang akan dijajakan mama’ di SD dekat rumahq.
Sebelum aku bangun mama’ sudah mendahuluiku terjaga dari tidurnya, dan mungkin ia tidak tidur setiap malamnya. Memasak nasi, lauknya, belum lagi aneka gorengan yang harus dia buat! Sering q perhatikan kerut-kertan kulit wajahnya, keletihan yang dia rasakan dan selalu membuatnya mengeluh namun dia harus dan harus berjuang menafkahi anak-anaknya.
Yap.. beginilah setiap pagi!! Semua orang sibuk dengan aktfitasnya masing-masing, aku pun harus cepat dan lekas membereskan barang-barang yang harus dibawa mama’ tak jarang terjadi percek-cokan jika sudah melanda virus-virus kepanikan jikalau pukul 07.00 dan belum juga beres pekerjaanku itu.
“Oalah….cepetan yang kerja, inini udah siang!! Entar keburu bocah-bocah pada masuk bel. Ya nda’ laku-laku no jualanya!!!
“iyo..in juga udah spontan kerjanya”
“maka’ne lw dibangunin itu cepat bangunnya,,, la’ gini kesiangan to!”
“eleh,,,kerjaanya kok marah-marah wae.
“kalo’ dbilangin itu denger telinganya.. jangan mbantah!

Begitulah jamu dipagi hari yang selalu q teguk,  Terasa pahit. Yah.. dengan begitu aku dan hidupku punya aneka cita rasa yang bisa menjadikan catatan kisah yang q jalani. Setelah semua usai mama’ diantar bersama dengan motor butut jaman nenek moyang yang kalau dinaiki body kerangkanya bisa lepas dengan sendirinya jika diterpa angin agak kencang. Namun itulah pengais rezeki untuk keluargaku.

v     

Jam dinding terus berputar, matahari menyingsing , orang-orang lalu lakang dengan aktifitasnya masing-masing. Bocah-bocah berlarian menuju sekolah, ibu-ibu buruh tanam beserta  bapak-bapak berbondong-bondong menuju ladang rezeki. Hiruk – pikuk para hamba-hamba tuhan dimuka bumi dalam berburu rezeki dan pangan telah dimulai. Siapa yang kerja yah dialah yang bertahan di alam yang penuh akan tantangan dan badai godaan.
Namun… itulah kehidupan dikalanganku! Tidak seperti sebagian kalangan yang telah merasakan kemerdekaan dan kejayaan akan hidupnya. Mereka tampak begitu santai, glamour, modis n necis satu stel dari atas sampai bawah. Kadang kala aku iri dan merasa jenuh dengan hidup yang penuh dengan pergolakan batin ibu dan bpak seperti badai tsunami yang telah meluluh-lantahkan pertahanan batin serta kesabaran hatiku. 
Dikala sedang bekerja sering terjadi rangkaian lamunan tingkat dewa yang membawaku terbang menuju istana di atas awan yang kesemua hal itu membuatku senyum-senyum sendiri. Sempat pernah kepergok sama kakak, malu sich..
“ wee.. senyum-senyum sendiri! Kasmaran ap.”
“ah..eng..ngga’’… ih<,,Gila urusan”
“ Dasar ABG labil”
“masalah buat loe”
                Hmm… lucu kalau diingat-ingat!! Yah, kakakq itu seorang laki-laki yang mukanya itu bisa dibilang yah lumayan serem kalau bibit-bibit emosinya datang!! Dirumah g’ ad yg berani bersuara ap lagi kentut kalau moodnya lagi g’ baik… yah dia g’ pernah nganggur ksetelah lulus SMA. Dia berusaha bayar dengan usahanya sendiri walaupu hanya  kuliah jarak jauh,,dia ambil yang hanya disamping desa saja untuk mempermudah membantu dan memantau keluarga mencari nafkah!! 

#BERSAMBUNG.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar